Kebijakan pada masa pendudukan Jepang
Begitu menduduki Indonesia, Jepang mempropagandakan kebijakan
pemerintahan yang bersaudara. Jepang menyebut dirinya sebagai saudara tu
dari bangsa Indonesia. Dikatakan pula bahwa bangsa Jepang adalah
turunan Dewa. Oleh karena itu, kedatangannya di Indonesia harus
dipandang sebagai pelindung yang akan mendatangkan kemakmuran bersama di
Asia Timur Raya, termasuk Indonesia. Maka dari itu, wajar jika
kedatangannya di negeri ini mula pertama banyak mendapat simpati dari
rakyat Indonesia. Apalagi sikap Jepang yang kemudian melarang dipakainya
bahasa dan kebudayaan barat. Begitu juga bku-buku dari barat harus
dimusnahkan. Sebliknya kebudayaan Indonesia mendapat perhatian, bahkan
bahasa Indonesia dijadikan bahasa umum.
Waktu itu, Jepang berusaha untuk menarik simpati dari bangsa ini agar
tetap dipandang sebagai saudara tuanya. Rakyat diberi tahu bahwa yang
menjadi musuhnya adalah Inggris, Belanda dan Amerika. Kesempatan dan
kebijaksanaan Jepang yang demikian dapat juga dimanfaatkan oleh bangsa
Indonesia dalam memperkuat perjuangan nasional. Hal ini terbukti dari
gerakan para pemuda Indonesia yang terlibat dalam berbagai organisasi
yang dibentuk Jepang. Pada masa itu, ada beberapa organisasi yang di
bentuk oleh Jepang, antara lain:
1. Gerakan Tiga A
Pada masa pendudukan Jepang, semua partai politik dibubarkan, kemudian
dibentuk organisasi atau perkumpulan baru. Organisasi yang mula-mula
dibentuk pada tahun 1942 adalah Gerakan Tiga A, dengan semboyan:
- Nippon cahaya Asia
- Nippon pelindung Asia
- Nippon pemimpin Asia
Gerkn tersebut dipimpin oleh Mr. Samsuddin dan Shimizu. Tujuannya untuk
menanamkan semangat membela Jepang. Tetapi, pada tahun 1943 gerakan itu
dibubarkan karena tidak berhasil.
2. Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Pada tanggal 1 Maret 1943 dibentuk Pusat Tenaga Rakyat atau disingkat
Putera. Pemimpinnya terkenal dengan sebutan Empat Serangkai, yaitu : Ir.
Soekarno, Drs. Moh Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansur.
Tujuannya adalah untuk memberikan pembelaan kepada Jepang. Tetapi bagi
tokoh-tokoh Indonesia justru untuk membina kader-kader bangsa dan
menggembleng mental rakyat agar mampu berjuang menuju kemerdekaan.
Karena Jepang semakin timbul kekhawatiran, maka pada tahun 1944 Putera
dibubarkan.
3. Jawa Hokokai (Gerakan Kebangkitan Rakyat Jawa)
Jawa Hokokai ini dimaksudkan untuk menggerakkan seluruh rakyat agar
memberikan kebaktiannya kepada kekuasaan Jepang. Rakyat diminta untuk
membantu dalam melawan Sekutu.
4. Peta
Kemudian, untuk mempertahankan tanah air Indonesia, pada tanggal 3
Oktober 1943 Jepang membentuk barisan sukarela yang disebut Pembela
Tanah Air atau disingkat PETA. Peta ini terdiri dari pemuda-pemuda
Indonesia yang dilatih sebagai prajurit di bawah pengawasan opsir-opsir
Jepang. Peta inilah yang kemudian akan menjadi inti dari Tentara
Nasional Indonesia pada zaman Revolusi Kemerdekaan.
Dengan adanya Peta ini, diharapkan rakyat Indonesia dapat mempertahankan
wilayahnya sendiri, apabila sewaktu-waktu Jepang meninggalkan negeri
ini. Itulah sebabnya, maka disetiap kabupaten dibentuk Peta. Nama Peta
untuk tingkat kabupaten disebut Daidan, dan dikepalai oleh seorang
Daidanco.
5. Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI)
Sementara partai-partai politik dibubarkan, Jepang masih memberikan izin
untuk berkembangnya sebuah partai Islam, yaitu Majelis Islam A'la
Indonesia (MIAI). Karena organisasi ini bukan merupakan parta politik.
Pimpinan MIAI diserahkan kepada Wondoamisena dan K.H. Mas Mansur. Bahkan
negara Nippon ini memberikan bantuan, sebab kelompok Islam dinilai
paling anti terhadap kekuasaan orang-orang barat.
Akan tetapi, pada perkembangannya organisasi ini selalu dicurigai. Akhir
tahun 1943 MIAI dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk Majelis Syuro
Muslimin Indonesia (Masyumi).
6. Barisan Pelopor
Tahun 1944, Jepang semakin terdesak dalam perang Pasifik. Satu demi satu
daerah pendudukannya jatuh ke tangan Amerika Serikat. Untuk
meningkatkan kesiapsiagaan rakyat Indonesia, pada tanggal 14 September
1944 dibentuk Barisan Pelopor, sebagai bagian dari Jawa Hokokai. Barisan
Pelopor ini merupakan organisasi pemuda pertama di masa penjajahan
Jepang yang dibimbing langsung oleh kaum nasionalis Indonesia. Pimpinan
organisasi dipegang oleh Ir. Soekrno dibantu oleh R.P. Suroso, Oto
Iskandardinata dan Buntaran Martoatmojo.
Melalui berbagai pidato dari para pemimpin nasionalis, Barisan Pelopor
berhasil mengobarkan semangat nasional dan rasa persaudaraan di kalangan
rakyat. Mereka juga berlatih kesiapsiagaan militer dengan kayu dan
bambu runcing.
Kebijakan pendudukan Jepang dengan beberapa organisasi yang dibentuknya,
sedikit banyak telah memberikan keuntungan bangsa Indonesia. Organisasi
seperti Putera, Jawa Hokokai, Barisan Pelopor, telah dimanfaatkan
Bangsa Indonesia untuk membina kader-kader pejuang yang tangguh. Bahkan,
secara diam-diam telah digunakan untuk mengobarkan semangat
nasionalisme demi perjuangan nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar